Impor BBM Indonesia Meningkat?

Jakarta, Kompas – Laju peningkatan konsumsi bahan bakar minyak di dalam negeri yang semakin tinggi menyebabkan jumlah impor BBM pada tahun 2010 diperkirakan akan meningkat 40 persen dari kebutuhan dalam negeri. Impor BBM pada saat ini sebesar 30 persen dari kebutuhan dalam negeri. Angka tersebut relatif tinggi karena Indonesia merupakan negara penghasil minyak mentah.

Hal itu dikemukakan pengamat perminyakan Kurtubi, mengutip data dari Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES), di Jakarta, Kamis (13/1). Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri pada tahun 2004 meningkat 1,5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dari 1,115 barrel per hari (bph) menjadi 1,131 bph.

Sementara impor minyak mentah sebagai bahan baku untuk diolah pada kilang dalam negeri menjadi BBM juga terus meningkat, sekitar 40 persen dari total kebutuhan minyak mentah pada tahun 2004 menjadi sekitar 48 persen pada tahun 2010. Hal itu terjadi akibat merosotnya produksi minyak mentah di dalam negeri.

Oleh sebab itu, ketergantungan impor Indonesia terhadap komoditas BBM dan minyak mentah akan terus meningkat. Hal ini akan sangat membahayakan ketahanan ekonomi masyarakat dan ketahanan keamanan nasional.

Produksi turun

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Iin Arifin Takhyan mengemukakan, produksi minyak mentah Indonesia memang semakin turun. Hal itu disebabkan oleh usia lapangan minyak di Indonesia yang sebagian besar sudah tua.

Temuan cadangan minyak dan gas Indonesia juga semakin menurun. Tahun 2000 temuan minyak dan gas mencapai di atas 2.662 juta barrel ekuivalen minyak (MMBOE). Hasil temuan itu kemudian terus menurun sehingga pada tahun 2001 menjadi 2.420 MMBOE. Tahun 2002 temuannya sebesar 2.202 MMBOE, tahun 2003 menjadi 2.212 MMBOE, dan tahun 2004 menjadi 415 MMBOE.

Demikian pula dengan produksi minyak dan kondensat Indonesia terus menurun, pada tahun 2000 hanya mencapai 1,272 juta bph, tahun 2001 menjadi 1,208 juta bph, dan tahun 2002 menjadi 1,117 juta bph. Angka ini terus menurun sehingga tahun 2003 menjadi 1,013 juta bph dan tahun 2004 tinggal menjadi 968,4 juta bph.

Proyek Pertamina

Secara terpisah, PT Pertamina mengumumkan perolehan dana sebesar 310 juta dollar AS dari konsorsium internasional. Kesepakatan pendanaan yang ditandatangani 6 Januari 2005 tersebut untuk pengembangan dan konstruksi lapangan gas Pagardewa Sumatera Selatan.

Melalui kesepakatan pendanaan tersebut, Pertamina dapat mengamankan ketersediaan pasokan gas 250 juta kaki kubik per hari dari Sumatera Selatan ke Jawa Barat yang diperkirakan mulai dialirkan pada pertengahan 2006.

Juru bicara Pertamina, M Harun, mengatakan, pinjaman itu menunjukkan tingginya kepercayaan perbankan dan lembaga keuangan internasional kepada prospek bisnis Pertamina. Sebelumnya, Pertamina memperoleh lebih dari 1 miliar dollar AS untuk pembiayaan impor minyak mentah dan BBM.

Sebanyak 70 persen dari pendanaan sebesar 310 juta dollar AS itu diperoleh dari Mitsubishi Corporation yang juga melibatkan Mitsui & Co dan Sumitomo Corporation. Sisanya disediakan kelompok bank komersial yang terdiri dari BNP Paribas, Bank of Tokyo-Mitsubishi, Caylon (UK), ING Bank NV, dan Mizuno Corporate Bank.

Selaku lembaga penjamin (trust tee borrowing), ditunjuk The Hongkong Bank & Shanghai Corporation (HSBC) yang akan menjembatani Pertamina dan Mitsubishi Corporation selaku pembeli minyak mentah Pertamina. Hal itu sebagai pembayaran cicilan utang.

Advertisements

~ by genebrain on December 3, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: